Berita Hawzah - Diriwayatkan dari Imam Ja‘far As-Shadiq 'alaihissalam sebuah doa yang sangat dianjurkan dibaca bulan Rajab-«یَا مَنْ أَرْجُوهُ لِکُلِّ خَیْرٍ». Doa tersebut menggambarkan hubungan indah dan ideal antara seorang hamba dan Sang Pencipta.
Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, dalam menafsirkan doa yang penuh cahaya ini, menekankan kemurahan Allah Swt yang tak berbatas, sehingga Dia tetap memberi rezeki bahkan kepada orang-orang yang tidak mengenal-Nya. Poros utama penjelasan doa ini bertumpu pada hubungan penghambaan yang murni kepada Allah Swt, harapan kepada rahmat-Nya yang tak terhingga, serta memohon kebaikan di dunia dan akhirat, yang dipersembahkan kepada para cendekiawan sekalian.
Setiap kali kalian melakukan kebaikan, maka kalian berharap Allah akan memberi pahala kepada kalian. Namun jika sebaliknya, dalam ungkapan doa disebutkan: «وَ آمَنُ سَخَطَهُ عِندَ کُلِّ شَرّ»— "dan aku merasa aman dari murka-Nya pada setiap keburukan yang kulakukan". Padahal, jika seseorang benar-benar tidak merasa aman dari murka Allah, niscaya ia tidak akan berbuat maksiat. Namun kenyataannya, ia tetap melakukan maksiat, seperti ghibah, berkata kasar, berdusta, sementara ia tetap merasa aman dari murka dan azab Allah.
Penyalahgunaan sifat hilm (kesabaran dan kemurahan hati) Allah Swt
Ungkapan «آمَنُ سَخَطَه» bermakna aku merasa aman; آمَنُ artinya aku merasa aman, dari سَخَط yakni murka dan kemurkaan-Nya; dan «عِندَ کُلِّ شَرّ» artinya dalam setiap perbuatan buruk, dalam setiap keburukan dan kejelekan apa pun yang pernah aku lakukan.
Setiap kali kita melakukan suatu kebaikan, kita berharap Allah akan menolong kita, menerima amal kita, memberi pahala kepada kita, dan memperhitungkan perbuatan tersebut sebagai kebaikan di sisi-Nya.
[Misalnya,] kita melaksanakan dua rakaat salat, melakukan i‘tikaf, berpuasa satu hari, atau bersedekah dengan sejumlah harta; dalam semua itu kita berharap Allah, karena perbuatan-perbuatan tersebut, akan melimpahkan karunia dan kemurahan-Nya kepada kita.
Kalian yang dalam melakukan kebaikan selalu mengharap dan menuntut akan limpahan karunia dan kasih sayang Allah Swt, dan begitupun ketika dalam melakukan keburukan, kalian seharusnya merasa takut terhadap murka-Nya. Namun sikap ini tidak kita miliki.
Hal ini menunjukkan bahwa hubungan kita dengan Allah Ta‘ala sering kali menyerupai hubungan seorang hamba yang manja dan dimanjakan terhadap Tuhannya: kita berharap agar perbuatan-perbuatan baik kita diperhatikan, tetapi dalam hati kita ingin agar perbuatan-perbuatan buruk kita tidak dilihat dan tidak diabaikan.
Padahal, hubungan yang kita jalin adalah dengan Allah—Tuhan Yang Maha Mulia, Maha Pemurah, dan Maha Dermawan; Tuhan yang menanamkan dalam hati kita harapan akan pahala atas setiap kebaikan, sekaligus rasa aman meski kita memiliki banyak keburukan.
Artinya, karena kita kerap melakukan kesalahan sementara Allah tidak segera menampakkan murka-Nya, kita pun merasa tenang dan cenderung lalai. Setiap kali berbuat keburukan, kita tetap merasa aman dari azab-Nya. Padahal, hubungan kita dengan Allah adalah hubungan yang diselimuti keluasan ampunan, limpahan kasih sayang, dan kemurahan-Nya kepada hamba-hamba-Nya.
«یا مَن یُعطِی الکَثیرَ بِالقَلیل»; artinya: Wahai Zat yang memberikan balasan yang besar atas amal yang kecil.
Anggaplah apa pun yang kita lakukan di jalan Allah—apa yang kita infakkan, kita berikan, dan kita upayakan—pada hakikatnya tidak memiliki nilai yang berarti jika dibandingkan dengan nikmat-nikmat Ilahi. Lalu, sebagai imbalannya, apa yang Allah berikan kepada kita?
Allah Swt menganugerahkan surga, keridhaan-Nya, serta berbagai kenikmatan akhirat—semuanya amat besar dan memiliki nilai yang sangat agung. «یا مَن یُعطِی الکَثیرَ بِالقَلیل»; atas amal kita yang sedikit, Dia menganugerahkan pemberian yang sangat banyak.
Bagian ketiga dari doa ini pun mengandung makna yang sama, dan sekali lagi menampilkan sesosok Tuhan yang pantas dan layak disembah serta pencipta yang maha pemurah dan penuh kasih sayang.
Jika seseorang memohon sesuatu kepada Allah, Allah akan memberikannya
«یا مَن یُعطی مَن سَأَلَه»; artinya: Wahai Zat yang memberikan kepada siapa pun yang memohon kepada-Nya.
Ini adalah sebuah kenyataan. Ketahuilah bahwa apabila seseorang benar-benar memohon sesuatu kepada Allah, maka Allah akan memberikannya. Jika kita melihat ada doa yang tidak dikabulkan, maka penyebabnya adalah salah satu dari hal berikut: bisa jadi kita tidak memohon dengan cara yang benar, atau terdapat suatu hikmah dan kemaslahatan, atau ada penghalang besar yang menghalanginya, atau permintaan itu bertentangan dengan sunnatullah dan hukum penciptaan.
Sunnatullah tidak mengizinkan setiap doa dikabulkan begitu saja dan tidak membenarkan setiap keinginan manusia untuk terwujud. Namun, apabila penghalang-penghalang tersebut tidak ada, maka apa pun yang kalian mohon kepada Allah, niscaya Allah Yang Mahatinggi akan memberikannya.
Manusia diciptakan agar Allah memberikan rahmat-Nya kepadanya
Bagian keempat, dan bagian yang sangat begitu agung: «یا مَن یُعطی مَن لَم یَسئَله»; artinya: Allah bahkan memberi kepada orang yang tidak meminta-Nya.
Seperti siapa? Misalnya, seperti kalian sendiri ketika masih kecil. Apa yang kalian minta dari Allah? Apakah kalian memohon nafas, kehidupan, kekuatan tubuh, lambung yang berfungsi, paru-paru yang sehat? Apakah semua itu kalian minta kepada Allah?. Tentu jawabannya, Tidak, tapi Allah tetap memberikannya tanpa kalian minta. Bahkan satu per seribu dari semua yang kalian miliki, kalian tidak memintanya, satu per sejuta dari itu pun kalian tidak minta, namun Allah memberikannya.
Jadi, «یا مَن یُعطی مَن لَم یَسئَله» artinya Allah memberikan kepada orang yang tidak meminta, dan «وَ مَن لَم یَعرِفه» berarti bahkan kepada orang yang sama sekali tidak mengenal Allah, Allah tetap memberi; karena semua nikmat dalam hidup kita berasal dan bersumber dari Allah Swt.
Kebesaran, kebaikan, dan kasih sayang ini dari Allah Yang Maha Tinggi berasal dari apa?, Ini berasal dari «تَحَنُّناً مِنه»; Tahannun berarti rasa peduli dan perhatian. Hannan berarti kebaikan, kedekatan, dan menjaga sesuatu atau seseorang karena kebaikan yang diberikan-Nya kepada kita, serta Dia memelihara kita. Dan juga karena rahmat (Bihār al-Anwār, Jilid 95, hal. 390), yaitu karena rahmat yang ingin Dia limpahkan kepada kita.
Allah menciptakan manusia untuk tujuan inilah: «وَ لِذٰلِکَ خَلَقَهُم» (Surah Hud, sebagian ayat 119); "manusia diciptakan agar Dia memberikan rahmat kepada mereka". Inilah sifat kita dan sifat Allah. Perhatikan, orang yang menyusun doa ini—yaitu Imam—dan Ia mengetahui bagaimana berbicara dengan Allah, serta Ia menyusunnya dengan sangat indah.
Begitulah hubungan kita dengan Allah: di satu sisi, kita sering bingung, tertipu, lalai, kurang menyadari, dan kurang memperhatikan serta memohon; di sisi lain, Allah selalu penuh rahmat, kemurahan, kedermawanan, dan kasih sayang tanpa batas.
Apa yang harus kita minta kepada Allah?
Jika keadaannya sudah seperti ini, kita naik satu tingkat lebih tinggi. Karena Allah Ta‘ala yang begitu Maha mulia dan Maha pemurah, maka sudah seharusnya kita hanya meminta kepada-Nya. Lalu, apa yang kita minta?, “اَعطِنی” — Ya Allah, anugerahkanlah kepadaku.
Karena sekarang aku bukan termasuk orang yang tidak meminta kepada-Mu. Memang Engkau telah banyak memberi tanpa diminta, tetapi kini aku datang memohon kepada-Mu.
«اَعطِنی بِمَسئَلَتی ایّاک» — anugerahkanlah kepadaku karena permohonanku kepada-Mu, «جَمیعَ خَیرِ الدُّنیا وَ جَمیعَ خَیرِ الآخِرَة» — seluruh kebaikan dunia dan seluruh kebaikan akhirat. Inilah yang kita harus minta dari Allah, dan kita pun berharap Allah mengabulkannya. Mengapa? Karena sejak awal doa, kita telah mengenal dan menggambarkan Allah dengan sifat-sifat tersebut.
Dan kita tidak berhenti sampai di situ. Kita lanjutkan dengan berkata: «وَ اصرِف عَنّی بِمَسئَلَتی ایّاک» — "dan jauhkanlah dariku, karena permohonanku kepada-Mu." Di sini, mas’alah bermakna permintaan dan permohonan.
Karena permohonanku kepada-Mu, jauhkanlah dariku apa yang harus dijauhi?, «جَمیعَ شَرِّ الدُّنیا وَ شَرِّ الآخِرَة» — "seluruh keburukan dunia dan seluruh keburukan akhirat." Mengapa kita memohon kepada Allah dengan cara yang begitu luas dan tak terbatas?
Ibarat kita meminta sebuah batu atau seekor burung pipit yang tak berharga, segala sesuatu yang selaras dengan kemaslahatan Ilahi akan diberikan oleh Allah. Sebaliknya, apa pun yang bertentangan dengan kebaikan dan kemaslahatan kita, tidak akan dikabulkan-Nya.
Mengapa kita meminta dengan begitu luas kepada Allah?., Karena «فَاِنَّهُ غَیرُ مَنقوصٍ ما اَعطَیت» — "apa pun yang Allah berikan, tidak ada kekurangan di dalamnya." Sebab, seluruh alam semesta, bagi Allah Sang Pencipta dan yang mengaturnya , hanyalah seperti setitik pasir.
Bagi kita, misalnya, satu juta terasa lebih banyak daripada seratus ribu—itulah cara pandang manusia biasa. Namun bagi orang yang memiliki miliaran, bahkan mampu menciptakan kekayaan dalam jumlah milyaran, satu juta dan seratus ribu tak ada bedanya bagi orang tersebut.
Jika semua doa saya dikabulkan, tetapi doa ini tidak, seakan-akan saya tidak mendapatkan apa-apa
Selanjutnya, kita sampai pada bagian doa yang lebih bersifat spiritual dan batin—bagian yang bagi banyak orang dianggap paling penting dalam doa, yakni memohon keselamatan dari api neraka.
Imam Husein 'alaihissalam dalam doa Arafah berkata:
“Ya Allah! Aku mempunyai satu permohonan, jika Engkau kabulkan permohonan ini, meskipun Engkau tidak mengabulkan semua permohonanku yang aku panjatkan dalam doa Arafah dari awal sampai sekarang, aku tetap memperoleh banyak kebaikan. Namun, jika Engkau mengabulkan semua permohonanku, tetapi tidak mengabulkan permohonan ini, seakan-akan aku tidak memperoleh apa-apa” (Bihār al-Anwār, Jilid 95, hlm. 232). Dan apakah permohonan itu?, Yaitu agar ampunan-Mu menyelimutiku dan azab-Mu tidak menyentuhku.
Di sini juga sama; setelah kita memohon semua kebaikan dari-Mu, bahkan hal-hal yang tidak kita minta pun Engkau berikan, kita berseru: «یا ذَا الجَلالِ وَ الاِکرامِ یا ذَا النَّعماءِ وَ الجودِ یا ذَا المَنِّ وَ الطَّولِ» — "Wahai Yang Maha Memiliki Keagungan dan Kemuliaan, yang memiliki anugerah dan kemurahan"— kata “المَنِّ” di sini bukan sekedar bermakna memberi kebaikan, tetapi sesuatu yang dapat menjadi sumber kebaikan dan kemuliaan. Artinya, itu adalah karunia, kasih sayang; sedangkan "الطَّولِ" berarti kemurahan hati dan kedermawanan seseorang kepada seorang manusia.
"Wahai Engkau yang memiliki anugerah, yang Maha Dermawan dan Pemberi", kemudian doa paling pentingku: «حَرِّم شَیبَتی عَلَی النّار», "semoga masa tuaku, uban di kepalaku, Engkau haramkan atas api neraka." Kata Syaybah di sini berarti uban, simbol usia tua. Dengan kata lain, permohonan ini menegaskan harapan agar di usia tua, aku dijauhkan dari siksa neraka.
Ya Tuhan! Aku memohon, haramkan masa tuaku (uban) atas api neraka
Ketika Imam Shadiq ‘alaihis-salam mengajarkan doa ini kepada seseorang, beliau memegang janggut beliau sendiri — karena janggut beliau sudah putih — dan memohon kepada Allah: «حَرِّم وَجهی عَلَی النّار». Artinya, “Haramkan janggut putihku dari api neraka.” Mereka yang memiliki uban di janggutnya pun bisa mengucapkan doa ini.
Bagi yang janggutnya hitam, atau wanita yang tidak memiliki janggut, bisa mengubahnya menjadi: «حَرِّم وَجهی عَلَی النّار» — "haramkan wajahku dari api neraka".
Beliau memegang janggut atau dagunya saat berdoa; karena tindakan memegang dagu atau janggut ini adalah simbol permohonan atau rasa sungguh-sungguh dalam berdoa. Misalnya, dalam bahasa Persia kadang orang berkata, “Lakukanlah hal ini,” lalu orang yang meminta itu meletakkan tangan ke janggutnya — itu adalah simbol permohonan.
Tradisi ini ada di Masyhad; saya tidak tahu apakah ada di tempat lain atau tidak. Mereka menyebutnya: “Āqā bālā gheyretan”, yang artinya ketika seseorang ingin sesuatu terjadi atau tidak terjadi, ia memohon dengan menempelkan tangan ke janggutnya sebagai tanda sungguh-sungguh dan pengharapan.
Ini maknanya: saat tangan diletakkan di janggut, seperti memohon sesuatu. Artinya, seseorang sedang berdoa:
“Ya Tuhan, aku memohon, «حَرِّم شَیبَتی عَلَی النّار» — "jangan biarkan janggutku, atau diriku yang sudah menua, terkena api neraka" (Bihar al-Anwar, j. 95, hlm. 390).
Apakah lebih baik seseorang berdoa dengan cara seperti ini, atau hanya mengulang kata-kata yang tidak ia pahami? Doa tanpa pemahaman seperti itu tidak banyak faedahnya.
Tentunya, meski ia tidak sepenuhnya memahami kata-katanya, jika hatinya sadar sedang berbicara dengan Allah, itu tetap bernilai. Namun sangat berbeda dengan mereka yang benar-benar memahami maknanya.
menggerakan jari telunjuk saat berdoa juga melambangkan permohonan yang sungguh-sungguh dengan kerendahan hati (تضرع). Pada masa itu, gerakan ini umum dilakukan. Jika, saat ini gerakan tersebut tidak dilakukan, tidak menjadi masalah. Karena di zaman kita, kebiasaan ini tidak umum lagi; pada masa itu, gerakan tersebut dilakukan sebagai simbol atau tanda cinta, penghormatan, dan kerendahan hati.
Your Comment